Beberapa Minggu yang lalu ada kejadian heboh di Tarakan.
Berita yang muncul di salah satu surat kabar lokal mengabarkan bahwa telah
ditemukan sesosok mayat bayi ditemukan seorang pemulung di TPS Jln Kusuma
Bangsa. Ketika melihat berita itu, spontan yang muncul di dalam benak adalah
apakah yang membuat orang begitu tega menghabisi nyawa bayi yang tidak berdosa
ini, mengapa di jaman sekarang orang
begitu mudahnya memutuskan sesuatu tanpa mendengarkan suara hati yang paling
dalam, apakah yang sedang melanda manusia jaman ini sehingga orang tidak lagi
menghargai kehidupan.
Kejadian itu mungkin hanya sebagian kecil dari
kejadian-kejadian lain yang lebih
menghebohkan. Kejadian lain yang intinya sama saja yaitu sama-sama tidak
menghargai kehidupan seperti: bunuh diri dan
membunuh orang lain. Dimensi dari kenyataan itu adalah bahwa orang
memandang kehidupan menurut ukurannya masing-masing tanpa melihat dari pandangan Tuhan. Jika
manusia merasa diri sebagai makhluk spiritualis, seharusnya cara pandang
manusia sedapat mungkin disamakan dengan cara pandang Tuhan.
Dari agama dan ajaran apapun, selalu dipahami bahwa Tuhan
sangat amat mencintai kehidupan. Maka cara pandang Tuhan adalah bahwa manusia
harus hidup dan selamat. Sebagai manusia, tindakan membenci kehidupan berarti
mengarahkan manusia menuju kematian, entah itu diri sendiri maupun orang lain.
Tanpa disadari kecenderungan ini semakin menguat karena manusia jauh dari
Tuhan.
Maka tidak heran bahwa fenomena dewasa ini yang membuat
orang semakin mudah untuk menghilangkan nyawa orang lain itu karena orang tidak
mengenal cara pandang Tuhan terhadap kehidupan. Memaksakan cara pandang
sendirilah yang menyebabkan itu semua.
Kejadian membunuh bayi merupakan akumulasi dari kebingungan,
ketakutan, dan perasaan putus asa yang dialami seseorang karena tidak memiliki
sandaran yang kuat. Sandaran atau pegangan yang digunakan orang itu adalah
pegangan yang mudah goyah karena berakar pada keyakinan individual yang sangat
dangkal. Namun jika sandaran itu adalah sesuatu yang abadi dan tidak berubah
maka orang akan selalu manjaga segala tingkahlakunya.
Dimensi lain yang muncul dari perilaku membunuh bayi adalah
tidak adanya kemampuan dari si pembunuh untuk mengelola dan mengendalikan
perilakunya. Sebenarnya ia tahu bahwa perilakunya itu salah namun ia tetap
melakukannya. Ia tahu tetapi tidak mau tahu. Di dalam dirinya ada sisi
moralitas walaupun tipis karena hanya berhenti di sebatas pengetahuan. Antara
pengetahuan dan kemauan selalu ada jurang yang oleh sebagian besar manusia
sulit deseberangi. Sering manusia mengetahui bahwa tindakan itu salah tetapi
tetap saja dilakukan. Sering manusia mengetahui bahwa tindakan itu baik dan
benar namun tidak mau dilakukan. Inilah masalahnya. Perasaan kecemasan akan
konsekwensi dari tindakan begitu dominan menghantui manusia sehingga orang
takut untuk melangkah. Padahal belum tentu konsekwensi yang lain lebih baik
atau membahagiakan. Maka sebelum memilih suatu tindakan, sebaiknya manusia
membuat jeda atau pause sebentar untuk
berkonsultasi dengan Tuhan, kira-kira sudut pandang apa yang digunakan oleh
Tuhan jika menghadapi masalah seperti kita.
Kehidupan itu perlu diperjuangkan. Banyak orang yang
berjuang untuk kehidupannya, namun banyak orang yang membenci kehidupannya.
Jika Tuhan saja amat mencintai kehidupan, maka sebagai hambaNya kita pun wajib
mencintai kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar