Cari Blog Ini

Minggu, 07 Juni 2015

MENCINTAI KEHIDUPAN



Beberapa Minggu yang lalu ada kejadian heboh di Tarakan. Berita yang muncul di salah satu surat kabar lokal mengabarkan bahwa telah ditemukan sesosok mayat bayi ditemukan seorang pemulung di TPS Jln Kusuma Bangsa. Ketika melihat berita itu, spontan yang muncul di dalam benak adalah apakah yang membuat orang begitu tega menghabisi nyawa bayi yang tidak berdosa ini, mengapa  di jaman sekarang orang begitu mudahnya memutuskan sesuatu tanpa mendengarkan suara hati yang paling dalam, apakah yang sedang melanda manusia jaman ini sehingga orang tidak lagi menghargai kehidupan.
Kejadian itu mungkin hanya sebagian kecil dari kejadian-kejadian  lain yang lebih menghebohkan. Kejadian lain yang intinya sama saja yaitu sama-sama tidak menghargai kehidupan seperti: bunuh diri dan  membunuh orang lain. Dimensi dari kenyataan itu adalah bahwa orang memandang kehidupan menurut ukurannya masing-masing  tanpa melihat dari pandangan Tuhan. Jika manusia merasa diri sebagai makhluk spiritualis, seharusnya cara pandang manusia sedapat mungkin disamakan dengan cara pandang Tuhan.
Dari agama dan ajaran apapun, selalu dipahami bahwa Tuhan sangat amat mencintai kehidupan. Maka cara pandang Tuhan adalah bahwa manusia harus hidup dan selamat. Sebagai manusia, tindakan membenci kehidupan berarti mengarahkan manusia menuju kematian, entah itu diri sendiri maupun orang lain. Tanpa disadari kecenderungan ini semakin menguat karena manusia jauh dari Tuhan.
Maka tidak heran bahwa fenomena dewasa ini yang membuat orang semakin mudah untuk menghilangkan nyawa orang lain itu karena orang tidak mengenal cara pandang Tuhan terhadap kehidupan. Memaksakan cara pandang sendirilah yang menyebabkan itu semua.
Kejadian membunuh bayi merupakan akumulasi dari kebingungan, ketakutan, dan perasaan putus asa yang dialami seseorang karena tidak memiliki sandaran yang kuat. Sandaran atau pegangan yang digunakan orang itu adalah pegangan yang mudah goyah karena berakar pada keyakinan individual yang sangat dangkal. Namun jika sandaran itu adalah sesuatu yang abadi dan tidak berubah maka orang akan selalu manjaga segala tingkahlakunya.
Dimensi lain yang muncul dari perilaku membunuh bayi adalah tidak adanya kemampuan dari si pembunuh untuk mengelola dan mengendalikan perilakunya. Sebenarnya ia tahu bahwa perilakunya itu salah namun ia tetap melakukannya. Ia tahu tetapi tidak mau tahu. Di dalam dirinya ada sisi moralitas walaupun tipis karena hanya berhenti di sebatas pengetahuan. Antara pengetahuan dan kemauan selalu ada jurang yang oleh sebagian besar manusia sulit deseberangi. Sering manusia mengetahui bahwa tindakan itu salah tetapi tetap saja dilakukan. Sering manusia mengetahui bahwa tindakan itu baik dan benar namun tidak mau dilakukan. Inilah masalahnya. Perasaan kecemasan akan konsekwensi dari tindakan begitu dominan menghantui manusia sehingga orang takut untuk melangkah. Padahal belum tentu konsekwensi yang lain lebih baik atau membahagiakan. Maka sebelum memilih suatu tindakan, sebaiknya manusia membuat jeda  atau pause sebentar untuk berkonsultasi dengan Tuhan, kira-kira sudut pandang apa yang digunakan oleh Tuhan jika menghadapi masalah seperti kita.
Kehidupan itu perlu diperjuangkan. Banyak orang yang berjuang untuk kehidupannya, namun banyak orang yang membenci kehidupannya. Jika Tuhan saja amat mencintai kehidupan, maka sebagai hambaNya kita pun wajib mencintai kehidupan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar